RSS

Teruntuk Teman Lama Yang Kelak (Ku Harap) Menjadi Pendampingku

Teruntuk priaku disana, yang bernama Benny


Hai, apa kabarmu hari ini, Sayang? Bagaimana pekerjaanmu di kantor? Sibukkah hari ini? Pastinya sibuk, karena jauhnya jeda waktu untuk membalas pesan singkatku pagi tadi. 
Siang ini aku tidak sepertimu, Sayang. Aku tidak sibuk. Pekerjaanku sedang pada masa lowong hari ini. Aku hanya duduk tenang di mejaku, lengkap dengan secangkir kopi, lalu aku berkutat dengan laptop dan WiFi dengan sinyal kencang yang memanjakanku. 
Tapi, kelamaan ku rasa benda-benda mati di meja kerjaku ini tidak ada gunanya, aku merindukan sosokmu untuk ku peluk hari ini. Aku merindukan saat-saat mengobrol denganmu, mengobrol banyak hal. 

Pada surat ini, aku hanya ingin mengungkapkan apa yang ada di hatiku. Sampai hari ini aku masih terbengong-bengong memikirkan ketika kau masih mengusap kepalaku saat aku mulai bertingkah menyebalkan,saat emosiku sedang naik turun,  atau kau tetap memelukku erat ketika penampilanku sedang tidak oke. Di atas kekuranganku itu, tak sedikit pun kau terlihat akan meninggalkanku.
Di luar sana masih banyak gadis yang sempurna, tetapi terima kasih sudah tetap bertahan denganku. Ketika bersamaku, kamu tidak akan menemukan sosok gadis pesolek yang terlalu memperhatikan apakah wajahnya berminyak, perlukah dipoles bedak lagi, atau apakah warna lipstiknya sudah mulai luntur. Tidak, sayang. Sedari masa puberku aku jarang sekali menyentuh alat-alat make up, aku hanya akan memoles bedak ketika akan pergi, atau sedikit memakai lip balm untuk melembabkan bibirku. Kamu pun sudah tahu kan kalau aku akan berdandan dan berpakaian rapi tapi seadanya. Aku sering bertanya kepada Tuhan, "Kebaikan apa yang sudah aku perbuat sehingga Tuhan mengirimmu untuk mendampingiku?" Padahal aku terkenal bandel, suka membantah guru dan orang tua.

Sering kali aku 'mengganggumu' dengan cerita suasana di kantorku, pekerjaanku, anak-anak didikku, dan keluargaku. Kukeluhkan semua kesebalan-kesebalanku kepadamu. Dulu kita tak pernah mengira ternyata begini rasanya jadi orang dewasa. Aku sering berpikir betapa mengerikannya hidupku setelah selesai sekolah dan hanya berisi berangkat pagi-kerja sampai malam-menikah-lalu mengurus keluarga. Tapi, aku yakin nantinya rutinitas itu tak lagi terasa mengerikan ketika bersamamu. Aku menjalaninya dengan tenang, sebab kehadiranmu akan menggenapkan.

Ketika aku sedang gemuk-gemuknya, kau tidak memicingkan mata, ketika wajahku  sedang berjerawat karena naik-turunnya hormonku kau tetap mengecup lembut pipiku. Kamu bilang kamu butuh rasa nyaman. Pria mana yang bisa bertekuk lutut diatas kata 'nyaman' ? Tapi semua kamu buktikan kepadaku.Tak sedikitpun ada permintaan perubahan darimu kepadaku.Yang ada malah semua dukunganmu untukku.
Aku tahu kamu lelah seharian bekerja di kantor, berkutat dengan layar komputer dan pekerjaan-pekerjaan yang harus kamu selesaikan.Tanggung jawabmu tidak kecil, dan kamu tidak seenaknya keluar dari itu.Tapi, apapun itu kamu selalu menyempatkan diri menghubungiku untuk memastikan apakah aku sudah dirumah atau sudah mengisi perut.

Terima kasih ya, sudah menggenggam tanganku disaat aku sedang kesepian dan butuh dukungan. Terima kasih sudah merengkuh pundakku ketika di keramaian dan kita hendak terpisah. Untuk kesabaran menjelaskan kepadaku tentang dunia yang baru ku masuki, dan untuk kelapangan hati menerima gadismu ini apa adanya. Di luar sana masih banyak gadis yang lebih sempurna. Ia yang lebih pandai memulas muka, ia yang lebih piawai memanjakan perut dan hatimu dengan hidangan hangatnya. Ia yang lebih lihai mengungkapkan perasaan dengan lidah dan kata-kata manisnya.

Kau selalu punya pilihan. Kau selalu bisa mencari yang lebih baik, lebih cantik, bahkan menemukan dia yang membawa diri dengan lebih apik. Tapi padakulah kau memilih berhenti, dan menyisipkan jarimu di sela jariku
Apapun alasannya, terima kasih karena kau berkenan berjalan di sisi. Setelah sekian waktu. Setelah sekian banyak episode naik-turun yang kita lalui. Terima kasih, sebab kau sudah mencintaiku dengan setulus hati. Meski kekuranganku tak cukup jika dihitung dengan jari, kuangkat topi untuk keberanianmu meluangkan kasih dan berhenti mencari.





Gadismu,
Shinta 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

valentinesymphony mengatakan...

makasih ya, Fikri :D

Posting Komentar