Tentang Cita-Cita
“Kamu
kalau sudah besar nanti, mau jadi apa?”
“Aku
mau jadi dokter...”
“Aku
mau jadi pilot...”
“Aku
mau jadi insinyur...”
Dialog tentang
cita-cita diatas pastinya akan selalu ditanyakan terhadap anak-anak kecil yang
sedang dalam masa lucu-lucunya, masih tahu hidup senang, belum tahu susahnya
mewujudkan suatu keinginan.
Cita-cita adalah apa
yang kita harapkan terjadi di masa yang akan datang, di masa kita ketika telah
dewasa. Cita-cita dapat berupa harapan, tujuan hidup, atau malah mungkin hanya
mimpi belaka.
Seorang anak yang masih
dalam usia sekolah belum terlalu memikirkan ‘besok saya makan apa?’ atau
bayangan akan cepat besar , atau mungkin jika ada masalah pasti berpikir masalah
tersebut akan mudah diatasi. Namun, memang tidak setiap anak dapat ‘dimudahkan’
seperti itu oleh orang tua mereka masing-masing. Intinya,bukan jaminan jika
setiap apa yang kita inginkan keluar dari mulut kita akan dapat terwujud dengan
mudahnya.
Waktu gue masih kecil,
hobi gue adalah berganti cita-cita. Cita-cita gue berubah-ubah seiring dengan tahapan
tingkat pendidikan gue. Mau gue jabarin kalo waktu kecil gue pernah mimpi jadi
apa aja? Oke oke, coba diliat daftar cita-cita gue :
Cita-cita
Waktu SD
Gue
memiliki masa SD yang bagi gue itu adalah masa-masa kesuraman gue. Gue sekolah
di sekolah Katolik yang terkenal dengan disiplinnya. Wali kelas gue dari kelas
1 itu galak-galak banget. Gak segan-segan ngatain gue dan murid-murid lainnya ‘tolol’
atau ‘goblok’. Kalo ada yang dapat nilai jelek pasti mukanya dicoreng-coreng
lipstik terus digiring keliling sekolah. Ah, sudahlah. Suram.... Cita-cita gue
waktu SD adalah guru. Gue waktu itu mikir gue mau ngajarin anak-anak ah, gak
mau jadi guru kejam macam guru kelas gue.
Masuk
Ke SMP
Masuk
ke SMP, gue mulai kenal pelajaran Biologi dan Fisika. Nilai Biologi dan Fisika
gue selalu ‘masuk surga’ kalo kata guru-guru gue. Paling kecil itu 80an. Tau
dong kalo hobi sama dua pelajaran di atas, cita-cita gue mengarah kemana? Waktu
itu gue pengen jadi dokter. Jadi dokter itu bukan hanya masalah gengsi belaka.
Bayangin dong, guys. Profesi lo itu menyembuhkan manusia, dan kinerja lo itu ada
di antara percampuran tangan Tuhan dan manusia. Cita-cita gue ini bertahan
terus sampai gue masuk SMA. Gue belajar giat, khususnya di Matematika. Kalo
Biologi dan Fisika gue masih masuk surga, nilai Matematika gue udah ada di
jembatan antara surga sama neraka.
Mulai
Ngaco di SMA
Masuk
ke SMA, cita-cita gue berubah lagi dong -_-. Waktu kelas 1 SMA gue ada di
masa-masa bandel. Dimana kerjaan gue keluar masuk ruang BP (Psst.. emak gue gak
tahu soal ini). Mulai dari cabut ke kantin pas pelajaran, ngeloncatin tembok
sekolah, tidur pas pelajaran,ngerobohin bangku sekolah bareng teman-teman
karena foto-foto ga jelas, sampai lagi main bola tapi bolanya kelempar ke guru Fisika
gue. Oke, gak usah ngomongin kasus gue di SMA. Nilai kelas 1 gue super parah.
Total pelajaran waktu kelas 1 adalah 15 pelajaran dan yang harus diremedial
setiap ujian blok adalah 12 pelajaran. Yang gak diremedial Cuma Bahasa Inggris,
Seni Musik, dan Agama Kristen. Gile ye.. Kerjaan gue kalo di kelas itu nulis
puisi, nulis cerpen, sama nyanyi-nyanyi. Gue berpikir untuk masuk ke Fakultas
Sastra atau Fakultas Seni waktu itu. Gue udah males masuk IPA walaupun Bokap
gue dulu marah-marah. Bayangin aja, sampe mau datengin sekolah mindahin gue ke
IPA. Ga penting juga keles, Paps! :D
Menuju
Destinasi Terakhir
Lulus
SMA, gue bingung mau daftar kemana aja. Waktu tahun 2009, gue ikut beberapa
ujian. Di antaranya yang pertama adalah Program
Beasiswa Teacher College Universitas Pelita
Harapan. Gue dapet nih beasiswa, Cuma kudu diasramain dan bokap waktu itu baru
aja meninggal. Lah, males banget. Akhirnya gue lepaslah beasiswa gue walaupun
udah keringat darah ngikutin tesnya. Kedua, gue ngikut UMB PTN, ngambil pilihan
pertama Sastra Inggris-UNJ dan Seni Musik-UNJ. Gak lolos dong. Kenapa? Karena
ternyata kalau mau masuk Seni Musik itu ada tes keterampilan, dan gue gak ikut.
Akhirnya ikut SNMPTN ambil Sosiologi UI dan Pendidikan Geografi UNJ setelah itu
dan lagi nunggu pengumuman. Setelah tahu gak lolos UMB, gue daftar cadangan ke
UKI, ngambil Hukum dan Sastra Inggris (lagi). Lolos sih, bebas uang pangkal
pula karena masuk rank. Mwhahahahahaha.. Tapi, gak gue ambil karena beberapa
hari setelahnya gue lolos di Geografi UNJ. Kenapa Geografi, Shin? Karena gue
sempet juga bercita-cita jadi orang tambang atau masuk BMKG. Tapi, ya udahlah
ya wong gue juga pindah jurusan di tahun berikutnya. Tahun 2010, gue makin gak
betah di Geografi. Kerjaan gue soalnya nyari batu sesuai klasifikasi yang
dikasih dosen gue abis itu ditetesin NaCl biar tahu itu batu mengandung asam
apa (Auk ah..), abis itu gue disuruh gunain Theodolit (ntar gue kasih gambar Theodolit biar tau) di Lab Praktikum Geodesi,
trus analisa cuaca pake rumus. Woooo, otak gue udah kribo didalam.
Ini Namanya Theodolit, Buat Neropong-Neropong Tanah
Pindahlah gue
di 2010, ikut UMB (lagi) ngambil Administrasi Fiskal UI (Oke, gue gak tau
maksud gue apa ngambil jurusan ini) sama Seni Musik UNJ (lagi). Gak lolos lagi
dong. Putus asa lalu berdoa. Ikut SNMPTN lagi ngambil Seni Musik UNJ dan Sastra
Inggris UI. Lalu, jeng jeng jeng.... Diterima di Musik, dan resmilah gue pindah
jurusan.
....
Sekarang, gue mewujudkan cita-cita pertama gue. Cita-cita gue dari SD, yang gue
pikir Cuma asal nyeplos aja. Ocehan masa kecil gue ternyata terwujud. Gue
bekerja di sebuah institusi pendidikan, mendidik calon penerus bangsa.
Jadi intinya terkadang semua yang pernah kita keluarkan via mulut
belum jaminan bahwa hal itu dari benar benar niat kita. Karena hidup itu
berjalan dan berubah. mengakibatkan pola pikir berubah, merubah cara pandang
pada sesuatu hal. Semakin dewasa akan semakin tahu , oh ternyata begini begitu,
ternyata hidup tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh perjuangan yang
keras karena kondisi jaman yang semakin ketat dalam persaingan. Teruslah
bercita cita, karena dengan cita cita sekecil apapun, dari situ dapat ditemukan
banyak hal.Walaupun tidak semua yang lo impikan dapat terwujud.




.jpg)





0 komentar:
Posting Komentar