Semalam benar-benar menguras otak dan energi gue buat mikirin apa yang harus gue lakukan agar hidup gue ini 'bergerak' ke atas. Well, bukan nggak bersyukur sih sama apa yang sudah diberikan-Nya. Lulus kuliah, dapat pekerjaan yang menurut gue cukup bagus, punya teman-teman yang baik hati, dan punya pacar yang sangat mendukung gue melakukan hal apapun yang baik. Tapi, seasons change,then people will change. Gue cuma takut semua berubah. Takut nggak bisa kompeten di pekerjaan, takut gue dan teman-teman terlalu sibuk untuk sekedar ngobrol di coffee shop, dan takut kalau suatu hari dia berubah haluan. Memang, hidup ini tidak statis. Pastinya akan banyak hal-hal yang berganti di setiap waktunya. Yang bisa gue lakukan saat ini (mungkin) adalah tetap berdoa, melakukan hal-hal yang setidaknya 'menyenangkan' sekitar, tetap menjadi gadis rendah hati (ini HRD gue yang bilang :p).
Pada akhirnya gue tahu kalau semua keraguan itu bukan untuk dilawan, tapi dilatih untuk lebih berpengetahuan dalam bertindak. Ya, gue ragu karena pernah gagal.Pernah gagal lulus tepat waktu, pernah dikhianati teman dan pacar, dan pernah 'ngaco' dalam bekerja, dan pada masa-masa itu gue memang kurang pengetahuan untuk bertindak mengatasinya .
Mungkin pekerjaan akan semakin berat, semakin banyak tanggung jawab untuk mengarahkan kemana anak-anak ini akan bertumbuh di sekolah. Semakin berat untuk menjadikan diri gue figur yang bisa dicontoh oleh anak-anak didik gue. Seenggaknya, gue juga belajar jadi pribadi yang jauh lebih baik tanpa mengubah identitas asli kepribadian gue.
Mungkin satu per satu teman-teman akan sibuk sendiri. Bekerja ke luar kota, pulang ke kota masing-masing, menikah, punya anak, dan hal-hal lain yang akan membuat mereka cuma bisa menjawab 'Aduh, gue gak bisa. Ada acara ini.... " atau " saat gue mengajak untuk ketemuan sebentar. Seenggaknya, zaman makin canggih walaupun akan lebih berinteraksi lewat benda mati bernama Smart Phone untuk menghubungi mereka semua.
Mungkin dia akan berubah. Semakin lama mengenal, pastinya semakin banyak hal-hal yang tidak terduga muncul di diri gue atau dia dan membuat kami berpikir masing-masing "Kok dia gini ya..." Atau, kesibukan pekerjaan masing-masing akan mengurangi intensitas untuk bertemu dan berkomunikasi. Setidaknya, mind set gue sudah diatur untuk berpikir bahwa gue harus menerima dia apa adanya tanpa harus mengubah jati diri dia dan apapun itu, gue harus tetap sayang sama dia.
Udahlah, bingung mau nulis apa lagi, yang penting jangan ragu aja :D
*teacher room, 10:23*
No Doubt ! Never !
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








0 komentar:
Posting Komentar