RSS

About Today (23022015)

So many things that I want to tell in this blog. So many story that i want to share. But, I think I am too tired if I write it all.

Hmm.. Let’s start from my first day at workplace after I got Chinese New Year holiday. I started with an assembly with my students and my colleagues. I played keyboard to accompany students and teachers sing Jubilee March and also Indonesia Raya in our Multi-Purpose Room or usually called as MPR Floor 2. I played smoothly and my friend, Jaslinder said that I was so gorgeus when I play keyboard. LoL. O ya, I was stumbled while walking, when the keyboard cable acrossed my table. I didn’t see the cable -_- and i feel embarassed, fell in front of my students. Hahahaha. Then, after assembly, I just opened my laptop and start browsing many things. Checking email, checking my facebook and twitter account, then I read news. I didn’t have any duty on Monday and Tuesday, but I must stand by at school. Phewww....

After school hour, I went to my uni to meet my lecturer, Mrs. Helena Limbong. She wanted to meet me as soon as possible because I have some duties with her for my graduation. I talked on this afternoon with her in Lecturer’s room with slices of cake and cups of tea. I felt so special there. What were we talking about? Not about our academic activities, but gossip. Hahahaha. Can you imagine that you can be a best friend with the most vicious lecturer in your uni? After she finished her duties in campus, She asked me to accompany her to Kalibata City and having our early dinner there. I think that I don’t have anything to do at home, so I accept her treat. On our way until Kalibata and back to Cawang, we talked so many things, from our campus activities, some troubles that my friends had made, her experiences when she was at SMM (Sekolah Menengah Musik or Music High School) and ISI (Institut Seni Indonesia). We also talked about our family life, her husband, her daughters. She asked about my relationship with abang, and she gave some advices to me, how to be a good wife to-be,daughter-in-law, and also a good mother-to be. I feel that like i talking with my mother. She is so nice. I remembered that when I had classes with her (She teaches Music History I-II, Music Composition I-II, Major Flute, Piano I-II) I ALWAYS FEEL RELUCTANT TO HER. I thought that she is very vicious, but now I erased all of my expectation to her. She is so nice, smart, distinct, have responsibility for her job and her family.After we finished all, I dropped off her at Cawang, she continued with bus.

I went home.At first, I didn’t feel anything happened with my body. After I arrived at home and took a bath, I lied down on my bed and start to text my honey bunny. We had a short chat, he answered my questions with short answers. Okay, maybe he is tired. Honestly, I want to have my pillow talk with him tonight, but he is sleeping.. Suddenly,  My mom was called me, she asked to close our house’s gate and door. I woke up and guess what? I fell so dizzy and queasy, also had epistaksis.My blood came out from my nose, I fell so nauseous. I hold my mouth, not to vomit because i didn’t want make a panic situation at home. I closed the gate and door, directly i went to my room again and lied down. I fell so bad tonight. I didn’t know what happened with my head and body. I fell good from morning to afternoon, but now so uproar. My Mom is sleeping now, and I turn on loud music in my laptop. I vomit to the bathroom, so many. Huahhh... But, feel so much better now. I hate if that headache hits me again and again. It disturbs my activities and concentration. I don’t want take many medicines because of that, I just need sleep.. sleep.. sleep.. after I feel better..

I hope tomorrow will be better than today. My body becomes healthy, my damn head becomes a good head for my activities tomorrow.Nyam..nyam..nyamm

:D


Good night, my love. Don’t you think that I missing you so much tonight?

xoxo

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dear, Sahabat. Masihkah kita bisa bersama?



Lupakah aku mengucapkan maaf?
Atau sekedar terima kasih
Untuk yg berarti dlm hidupku
Walau tak cukup banyak cerita tuk dikisahkan
Tapi terlalu banyak permohonan tuk didoakan
dan mimpi-mimpi tuk diwujudkan
walau terbentang segala yg merintangi
kau dan aku tetap satu




Dear sahabat,

Apa kabarmu disana? Sesibuk apakah kalian sehingga kita tidak bisa lagi mengatur waktu untuk sekedar bertatap muka, bercengkrama sambil mensesap secangkir kopi. Apa aku lupa untuk meminta maaf, ketika aku sempat menghilang dari peredaran karena tugas akhirku atau karena aku terlalu sibuk dengan kekasihku?
Apa kalian masih ingat kebersamaan kita? Ketika salah satu dari kalian pernah hancur tersakiti oleh sang pacar di hari ulang tahunnya, atau ketika salah satu dari kalian pernah marah besar karena kami terlalu mencampuri urusan pribadinya?
Aku masih ingat kita berenam pernah menatap matahari tenggelam di pantai selatan Jawa sambil berbaring berdampingan di atas pasir dan ombak terus-terusan menerpa tubuh kita. Kita pernah bergandengan tangan ketika melewati gua yang gelap, lembab, dan penuh kelelawar, tapi akhirnya kita mendapatkan segala keindahan stalagtit didalamnya, dan deburan ombak yang terdengar di luar sana, dan kita pun pernah saling memeluk ketika kita saling ketakutan menonton film horror malam-malam.


Dear sahabat,

Kita pernah bersama-sama masuk ke perguruan tinggi yang sama, di jurusan yang sama, walaupun pada akhirnya aku pergi meninggalkan kalian demi mengejar mimpiku. Aku pernah berharap kita akan memakai toga bersama, sama-sama mengangkat sumpah guru, sama-sama tertunduk dalam doa dan mensyukuri apa yang telah kita raih selama empat tahun lebih di institusi kita tercinta. Lagi-lagi aku harus minta maaf, karena aku pun harus pergi lebih dahulu. Berdoa sendirian, mengangkat sumpah sendirian pula. Aku tidak tahu apa yang kalian lakukan hari ini, apa yang kalian rasakan sekarang ini, tapi aku hanya meminta segeralah meraih selembar ijazah kalian itu, agar beban orang tua kita tidak terlalu berat lagi.


Dear sahabat,

Aku menanti kedatanganmu di bulan yang akan datang. Dimana aku dapat memeluk kalian dengan bangga, karena tanpa doa dan dukungan semangat dari kalian, mungkin aku tidak bisa seperti sekarang.







*Teruntuk Ridhwan, Ni Putu Shintia Saraswati Dewi, Frans Dennis Simarmata, Sean Rama, dan Taufiqqurachman-Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta 2009-



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tentang Cita-Cita

Tentang Cita-Cita

“Kamu kalau sudah besar nanti, mau jadi apa?”
“Aku mau jadi dokter...”
“Aku mau jadi pilot...”
“Aku mau jadi insinyur...”




Dialog tentang cita-cita diatas pastinya akan selalu ditanyakan terhadap anak-anak kecil yang sedang dalam masa lucu-lucunya, masih tahu hidup senang, belum tahu susahnya mewujudkan suatu keinginan.
Cita-cita adalah apa yang kita harapkan terjadi di masa yang akan datang, di masa kita ketika telah dewasa. Cita-cita dapat berupa harapan, tujuan hidup, atau malah mungkin hanya mimpi belaka.
Seorang anak yang masih dalam usia sekolah belum terlalu memikirkan ‘besok saya makan apa?’ atau bayangan akan cepat besar , atau mungkin  jika ada masalah pasti berpikir masalah tersebut akan mudah diatasi. Namun, memang tidak setiap anak dapat ‘dimudahkan’ seperti itu oleh orang tua mereka masing-masing. Intinya,bukan jaminan jika setiap apa yang kita inginkan keluar dari mulut kita akan dapat terwujud dengan mudahnya.
Waktu gue masih kecil, hobi gue adalah berganti cita-cita. Cita-cita gue berubah-ubah seiring dengan tahapan tingkat pendidikan gue. Mau gue jabarin kalo waktu kecil gue pernah mimpi jadi apa aja? Oke oke, coba diliat daftar cita-cita gue :


             Cita-cita Waktu SD

Gue memiliki masa SD yang bagi gue itu adalah masa-masa kesuraman gue. Gue sekolah di sekolah Katolik yang terkenal dengan disiplinnya. Wali kelas gue dari kelas 1 itu galak-galak banget. Gak segan-segan ngatain gue dan murid-murid lainnya ‘tolol’ atau ‘goblok’. Kalo ada yang dapat nilai jelek pasti mukanya dicoreng-coreng lipstik terus digiring keliling sekolah. Ah, sudahlah. Suram.... Cita-cita gue waktu SD adalah guru. Gue waktu itu mikir gue mau ngajarin anak-anak ah, gak mau jadi guru kejam macam guru kelas gue.

Masuk Ke SMP
Masuk ke SMP, gue mulai kenal pelajaran Biologi dan Fisika. Nilai Biologi dan Fisika gue selalu ‘masuk surga’ kalo kata guru-guru gue. Paling kecil itu 80an. Tau dong kalo hobi sama dua pelajaran di atas, cita-cita gue mengarah kemana? Waktu itu gue pengen jadi dokter. Jadi dokter itu bukan hanya masalah gengsi belaka. Bayangin dong, guys. Profesi lo itu menyembuhkan manusia, dan kinerja lo itu ada di antara percampuran tangan Tuhan dan manusia. Cita-cita gue ini bertahan terus sampai gue masuk SMA. Gue belajar giat, khususnya di Matematika. Kalo Biologi dan Fisika gue masih masuk surga, nilai Matematika gue udah ada di jembatan antara surga sama neraka.

                               Mulai Ngaco di SMA

Masuk ke SMA, cita-cita gue berubah lagi dong -_-. Waktu kelas 1 SMA gue ada di masa-masa bandel. Dimana kerjaan gue keluar masuk ruang BP (Psst.. emak gue gak tahu soal ini). Mulai dari cabut ke kantin pas pelajaran, ngeloncatin tembok sekolah, tidur pas pelajaran,ngerobohin bangku sekolah bareng teman-teman karena foto-foto ga jelas, sampai lagi main bola tapi bolanya kelempar ke guru Fisika gue. Oke, gak usah ngomongin kasus gue di SMA. Nilai kelas 1 gue super parah. Total pelajaran waktu kelas 1 adalah 15 pelajaran dan yang harus diremedial setiap ujian blok adalah 12 pelajaran. Yang gak diremedial Cuma Bahasa Inggris, Seni Musik, dan Agama Kristen. Gile ye.. Kerjaan gue kalo di kelas itu nulis puisi, nulis cerpen, sama nyanyi-nyanyi. Gue berpikir untuk masuk ke Fakultas Sastra atau Fakultas Seni waktu itu. Gue udah males masuk IPA walaupun Bokap gue dulu marah-marah. Bayangin aja, sampe mau datengin sekolah mindahin gue ke IPA. Ga penting juga keles, Paps! :D

                              Menuju Destinasi Terakhir

Lulus SMA, gue bingung mau daftar kemana aja. Waktu tahun 2009, gue ikut beberapa ujian. Di antaranya  yang pertama adalah Program Beasiswa  Teacher College Universitas Pelita Harapan. Gue dapet nih beasiswa, Cuma kudu diasramain dan bokap waktu itu baru aja meninggal. Lah, males banget. Akhirnya gue lepaslah beasiswa gue walaupun udah keringat darah ngikutin tesnya. Kedua, gue ngikut UMB PTN, ngambil pilihan pertama Sastra Inggris-UNJ dan Seni Musik-UNJ. Gak lolos dong. Kenapa? Karena ternyata kalau mau masuk Seni Musik itu ada tes keterampilan, dan gue gak ikut. Akhirnya ikut SNMPTN ambil Sosiologi UI dan Pendidikan Geografi UNJ setelah itu dan lagi nunggu pengumuman. Setelah tahu gak lolos UMB, gue daftar cadangan ke UKI, ngambil Hukum dan Sastra Inggris (lagi). Lolos sih, bebas uang pangkal pula karena masuk rank. Mwhahahahahaha.. Tapi, gak gue ambil karena beberapa hari setelahnya gue lolos di Geografi UNJ. Kenapa Geografi, Shin? Karena gue sempet juga bercita-cita jadi orang tambang atau masuk BMKG. Tapi, ya udahlah ya wong gue juga pindah jurusan di tahun berikutnya. Tahun 2010, gue makin gak betah di Geografi. Kerjaan gue soalnya nyari batu sesuai klasifikasi yang dikasih dosen gue abis itu ditetesin NaCl biar tahu itu batu mengandung asam apa (Auk ah..), abis itu gue disuruh gunain Theodolit (ntar gue kasih gambar Theodolit biar tau) di Lab Praktikum Geodesi, trus analisa cuaca pake rumus. Woooo, otak gue udah kribo didalam. 


Ini Namanya Theodolit, Buat Neropong-Neropong Tanah



Pindahlah gue di 2010, ikut UMB (lagi) ngambil Administrasi Fiskal UI (Oke, gue gak tau maksud gue apa ngambil jurusan ini) sama Seni Musik UNJ (lagi). Gak lolos lagi dong. Putus asa lalu berdoa. Ikut SNMPTN lagi ngambil Seni Musik UNJ dan Sastra Inggris UI. Lalu, jeng jeng jeng.... Diterima di Musik, dan resmilah gue pindah jurusan.


.... Sekarang, gue mewujudkan cita-cita pertama gue. Cita-cita gue dari SD, yang gue pikir Cuma asal nyeplos aja. Ocehan masa kecil gue ternyata terwujud. Gue bekerja di sebuah institusi pendidikan, mendidik calon penerus bangsa.

Jadi intinya terkadang semua yang pernah kita keluarkan via mulut belum jaminan bahwa hal itu dari benar benar niat kita. Karena hidup itu berjalan dan berubah. mengakibatkan pola pikir berubah, merubah cara pandang pada sesuatu hal. Semakin dewasa akan semakin tahu , oh ternyata begini begitu, ternyata hidup tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh perjuangan yang keras karena kondisi jaman yang semakin ketat dalam persaingan. Teruslah bercita cita, karena dengan cita cita sekecil apapun, dari situ dapat ditemukan banyak hal.Walaupun tidak semua yang lo impikan dapat terwujud.





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS