How long I can wake up and move to other step without facing my past
I feel it's so hard to walk through this storm.
Many days I've spent with this pain
No one now what I feel
and I don't want they are know, because I know they won't understand
I hope there's a rainbow after my stormy days
I hope I can fight this life, harder
But, I see my skies are grey
No hope
No happiness there
How I should leave this distress
How I should treating my wounds
I wanna falling from my darkness
To a place I don't know
Everything's moving with no place to go
I feel so alone and scared
Never did I want to feel like this,
When the answer lies with the slit of the wrist
My mind is racing to find another solution
Before it's too late and I'm just an illusion.
No one knows how I really feel
I just want him to hold me and help me heal
As I fall, I feel the rain
I begin to think that may be he isn't the key to ease my pain
Daddy, tonight I miss you :)
Mv
Nocturnal Short Poem -September 11th 2014
6 tahun lalu. How I Miss You, Drs. Maringan Samosir, M.Pd :)
6 tahun lalu, di tanggal yang sama dengan hari ini, aku sedang tergesa-gesa berjalan di koridor rumah sakit untuk menemui papaku tercinta. Saat itu aku sedang berada di Condet, di rumah putri papa yang pertama. Aku, kakakku, abang iparku, dan tiga orang keponakanku segera berangkat ke rumah sakit tempat papaku dirawat begitu menerima telepon bahwa papa sedang kritis. Aku masih tidak menyangka akan secepat itu, aku masih berpengharapan papa bisa sembuh lagi, karena jujur saja saat itu aku tidak tahu persis apa penyakit papaku. Dokter tidak memberitahu, keluargaku juga. Alasannya, karena aku akan mempersiapkan Ujian Akhir SMA.
Dari bulan Juni 2008 saat itu, aku hanya mondar-mandir sekolah-tempat les-rumah sakit-rumahku. Tidak pernah menginap karena mama tidak mengizinkan. Tapi, 29 Agustus 2008 lalu, aku berniat menginap di rumah sakit bersama sepupuku, Ricardo. Aku masih ingat waktu malam itu aku tidur di samping papa, menikmati malam sunyi dengan aroma karbol rumah sakit dan ditemani oleh suara tetesan infus. Malam itu,papa sering kali terbangun dan terduduk di tempat tidur, matanya kosong. Saat ini aku malah berpikir, mungkin tatapan papa waktu itu tertuju kepada Tuhan Yesus yang sudah menunggumu,Pa.
Sabtu malam, aku menemani papa mengikuti perjamuan kudus yang dilayani oleh Pendeta Simbolon dari HKBP Kernolong. Saat itu pendeta ressort gerejaku tidak ada, karena mengikuti Sinode Godang di Tarutung. Aku hanya bisa mengeluarkan air mata melihat papaku memakan tubuh dan darah Kristus. Usai perjamuan, beliau memintaku untuk mendekat dan ia menasehatiku banyak hal. Terakhir, papa memintaku untuk mencium kening dan pipinya.
Minggu malam, 31 Agustus 2008, papa pergi....
6 tahun berlalu, dan aku masih merasakan sakitnya di hati tidak punya figur seorang ayah. Papaku seorang guru, dan kini 6 tahun setelah kepergiannya, aku berprofesi yang sama dengan beliau. Seharusnya aku masih butuh dibimbing, Pa. Bagaimana menjadi guru yang baik, tidak terlalu galak,tetapi dihormati oleh murid. Bagaimana aku harus bijak menghadapi masalah-masalah pendidikan yang ada.
Mungkin beberapa tahun lagi setelah kepergiannya, pastinya aku masih butuh dibimbing.. Dibimbing untuk dapat menunjukan bahwa tidak semua laki-laki itu jahat. Karena aku masih punya contoh, yaitu dirimu...
6 tahun berlalu, dan aku masih merasakan sakitnya pula ketika aku terhina oleh beberapa orang karena lulus kuliah tidak tepat waktu. Aku tidak bodoh kan, pa? Aku hanya terlalu sering mengulur waktu. He..he..he.. Tenang saja,pa. Maret 2015 aku akan berkunjung ke rumahmu membawa togaku.
Datanglah ke hari wisudaku, walaupun aku tidak bisa melihatmu, aku tahu kau menemani di sampingku, di deretan bangku wisudawan...
Dan ketika tiba saatnya nanti, datanglah ke hari pernikahanku. Karena aku ingin kau menyaksikan aku bersama pria yang sudah ku pilih, yang bisa menggantikanmu untuk menjagaku.
Setua apapun aku nanti, aku tetaplah gadis kecilmu.
In memoriam,
Drs. Maringan Samosir, M.Pd (23 September 1953-31 Agustus 2008)
Hari Pertama Jadi Guru SD
Standar banget ya judul blog gue...? Hahha.. okelah, gue bakal cerita tentang pengalaman gue pertama kali masuk kelas di sekolah tempat gue bekerja, sebut aja SD B. Disana gue jadi guru social studies dan art. Social studies? IPS? Kenapa gue melenceng???? Background gue ada di Seni Musik, tapi gue jadi guru IPS.. Why? Pertama, itu sekolah kurikulumnya ga ada mata pelajaran seni musik, adanya art and craft. Lalu gue ditempatkan di divisi social studies teacher karena...... HRD gue liat di CV bahwa gue pernah duduk selama setahun di bangku jurusan Geografi. Jadilah gue dimasukkan ke guru IPS.
Setelah melalui rangkaian tes mulai dari seleksi berkas-interview dengan tiga 'pejabat' sekolah-microteaching di kelas, dan hari ini.... 19 Mei 2014 gue masuk ke SD B sebagai guru training.. Masih training, belom beneran ye. Benerannya entar.. Bulan Juli, tahun ajaran baru.
Datanglah gue pagi-pagi dengan kecenya ke sekolah tersebut, dan ketemu kepala sekolah gue, Miss D. Miss D langsung ngasih gue tugas buat ngegantiin Miss VN yang gak masuk. Note, Miss VN ini adalah guru Matematika dan Science, a.k.a IPA. Gile, dari dulu gue sebel banget sama math dan IPA, sekarang disuruh ngajar. Emang sih ngajar SD tapi wawasan dan hitung-hitungan mesti lancar juga kali. Jam pertama gue masuk di kelas 1. Kelas awal-awal masa pertumbuhan yang masih haus ilmu dan kelebihan energi buat mental sana sini di sudut kelas. Sumpah, ni kelas ribut bingiitss!! So Far anaknya sih baik-baik. Gue ngajar math dengan asiknya di kelas tersebut. Komen anak-anak ini macam-macam banget adanya. Pengen dijitak satu-satu tapi ntar emaknya dateng lagi. Ada yang komen 'Ih Miss, tulis tanggal dulu."-Oke, gue tulis tanggal hari itu. 'Miss, biasanya Miss VN ngajarnya gini.'-Kids, note to you.. I'm Miss Shinta, not your Miss VN. Tapi setelah itu adem ayemlah semua dan tampaknya mereka menyukai gue dan kepolosan gue dalam mengajar matematika.
Di jam kedua gue ngajar matematika lagi di kelas 2. Ini kelas paling asyik, paling hebring, paling rese juga (tetep). For info, kelas 2 ini di tahun ajaran baru bakalan jadi anak gue, secara gue udah ditunjuk jadi wali kelas mereka. Beberapa anak di kelas 2 sini hobinya gelendotan, gelayutan, gelantungan di badan gue. Dikira gue pohon kali. -_-
Di jam terakhir, gue masuk ke kelas 3. Ini menguras energi banget. Isinya ada 19 orang, lebih banyak daripada kelas 1 dan 2 yang tiap kelasnya hanya ada sekitar 10 orang saja. Amsiong, tenggorokan gue kering teriak-teriak di kelas ini.
Overall, senakal apapun anak-anak SD, segila apapun mereka bikin kesel kita, kita tuh gak bakalan bisa marah sama malaikat-malaikat kecil ini. Karena nakalnya mereka masih nakal polos, nakal-nakal perlu bimbingan gitulah. Gak kayak anak SMA.. Lieuurrrrrrrrrr....
Sekian dan terima kasih.
Mau kasih Quotes dikit
"You can learn many things from children. How much patience you have, for instance. ~Franklin P. Jones"
my room, May 19th, 22.12







